Posted by: iyok736 | 18 April 2008

Tracking in Sumbing (part II)

Cerita lanjutan neh…

Para pemuda nan ganteng ini dengan semangat 45 bergegas menyusuri trek Gn. Sumbing. Karena waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak sekitar 8 jam dengan menempuh jarak 7 km (waktu normal). Mulai dari Base Camp mereka sudah disuguhi lajur yang menanjak. Melewati perkampungan, mengikuti tanda panah, dan akhirnya melewati pepohonan bambu dan akhirnya setelah tanjakan pertama mereka melewati kebun sayur, tetapi jalannya tetap menanjak. Di Perkampungan pak Dosko menyempatkan diri membeli kol dan wortel, kobis bulet gedhe seger cuman seribu perak!! Wow…. Dan ketika melewati kebun sayur, pak Dosko juga menyempatkan diri menemui pak tani hanya untuk membeli beberapa batang daun bawang, langsung dicabut dari tanah boo… seger bukan??

Kembali mereka jalan…

Mereka mengambil jalur baru karena jalur lama udah jarang dipake, terlalu terjal buat pendakian dan relatif kurang aman. Kondisi jalan tanah liat dan tanah merah berpasir, di kanan kiri jalur rerumputan dan pepohonan kecil. Perjalanan akan semakin menanjak melewati dua buah bukit yakni bukit Genus dan Sedlupak. Jalan berupa tanah merah berpasir. Kalau lagi beruntung, saat kita masuk hutan, kita bisa ketemu ama setan belanda yg konon badannya tinggi dan bentuknya sangat seram (itu kata temen2 di merbabu.com…hehehehe).

Jalur Baru Setelah melewati ladang pertanian sampailah di perbatasan hutan di kawasan Bosweisen (batas ladang dan hutan) yang merupakan batas KM III. Kondisi jalan berupa tanah liat dan tanah merah berpasir.

Mereka beristirahat di Pos I, setelah sempet terkagum-kagum dengan ulah kita para manusia, yang menjadikan permukaan awal gunung Sumbing begitu gundulnya. Tak henti mulut ini berdecak…”Gundul…gundul…” Pemuda-pemuda tampan itu juga disuguhi air terjun yang menawan sangat. Berhenti sambil menikmati coklat dan minuman segar, sangat nikmat bukan? Ups….hujan mulai mengguyur, harus selamatkan kamera…

Tim sedang beristirahat di pos I dan gambar curug yang tertangkap kamera sang fotografer…

Perjalanan selanjutnya kita akan sampai di Pos II (Gatakan) pada ketinggian 2.240 mdpl. Di pos ini pendaki dapat mendirikan tenda, dibandingkan tempat lain, tempat ini cukup terlindung dari hempasan angin kencang, disamping itu pendaki dapat mengambil air bersih dari sungai yang tidak terlalu jauh. Tempat ini terkenal keangkerannya, pendaki yang berkemah disini sering mendapat gangguan Sundel Bolong (merbabu.com). Namun di Pos ini mereka hanya berteduh sejenak, dan ketika dingin mulai merayap, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ujan-ujanan lagi… Dan tolong ingatkan saya tentang kejadian menarik ketika kami turun dan hendak menuju pos II.

Senja mulai datang, dan masih saja air hujan mengguyur. Dingiiin, tapi kaki-kaki para pemuda tampan itu masih saja menapaki jalan setapak di Gunung Sumbing. Terkadang mereka harus berhenti sejenak untuk menghirup napas panjang, menikmati segarnya air, dan membetulkan letak carrier yang mulai bergeser di punggung. Jalan pun mulai terasa curam. Pemuda-pemuda tangguh itu mulai merasakan siksaan teramat sangat. Hantaman angin senja dan guyuran hujan yang tak henti, membuat mereka mulai kepayahan.

Yang paling menarik adalah ketika hendak mencapai pos Pestan (Peken Setan/Pasar Setan). Para pemuda tangguh itu disuguhi jalur yang membuat nyali jadi ciut. Curam, licin, dan tanpa ada bantuan pohon untuk berpegangan, sedangkan langit semakin gelap. Sebelah kiri adalah jurang, dan sebelah kanan dataran curam yang dipenuhi bekas-bekas kebakaran hutan yang menyisakan pucuk-pucuk pohon mati yang tajam (Ga kebayang klo jatuh ke sono..wah..) Pemuda tangguh itupun akhirnya mulai menerima kenyataan bahwa mereka tidak akan sampai di Pos Watu Kotak untuk bermalam. Mereka memutuskan untuk segera beristirahat setelah menemukan tempat yang cukup untuk istirahat dan mendirikan tenda.

Ketika suara-suara meneriakkan “Shelter!! Di mana kamu!?” mulai terdengar. Terjadilah bencana. Gobog tergelincir jatuh!! Sedangkan di sebelah kirinya jurang!! Pemuda yang lain yang sudah tersebar dan hanya bercahayakan senter tidak bisa dengan tangkas membantu. Karena kondisi jalan yang super duper licin tidak memungkinkan untuk bergerak lincah. Di samping itu, jalur benar-benar sudah menghabiskan stamina. Gobog pun akhirnya bisa meraih dan memeluk gundukan. Akhirnya kami pun mendengar kata-kata khasnya, “Djancuk!!” sambil memukulkan tangan ke tanah.

Tak lama berselang setelah mereka berlega karena tidak terjadi masalah berarti, satu pemuda lagi jatuh terelincir. Kali ini adalah sang fotografer, saya sendiri, hehehehe. Karena kondisi sandal gunung sudah kurang compatible dengan jalur dan tetap dipaksakan, akhirnya terjadi juga. Sang fotografer tergelincir jauh ke belakang. Segera ilmu yang didapat di kepecintaalman diterapkan. Rapatkan badan ke bumi, tangan dan kaki menghentakkan ke tanah mencari pijakan dan pegangan. Licin sangat!! Untunglah sang fotografer tertolong oleh satu pemuda lainnya di belakangnya. Ia terhenti karena tertahan oleh kaki pemuda itu. Segera tangan dan kaki yang lain mencari posisi wuenak untuk berdiri dan bergegas ke depan. Karena bahaya bila kondisi seperti itu dipaksakan untuk jalan berdekatan tanpa pengamanan sherpa style.

Di Pestan (Peken Setan/Pasar Setan) pada ketinggian 2.437 mdpl, terdapat tempat terbuka yang cukup luas, pendaki dapat mendirikan tenda untuk beristirahat. Konon pendaki akan mencium bau semerbak bunga, bila bau bunga ini mengikuti dia, maka ada sosok mahkluk halus yang membuntutinya. Di sini jalur lama dan jalur baru bertemu. Kawasan ini tidak ada pohonnya berupa padang rumput dengan sedikit pohon kecil, sehingga angin kencang sering menerpa tenda. Selain itu pendaki harus waspada karena sering ada badai yang cukup besar dan berbahaya. Kondisi jalan berupa tanah merah berpasir. (merbabu.com)

Yang kami temui di Pestan adalah, kebingungan mencari shelter yang datar, dihantam badai dan hujan. Tangan-tangan mulai kaku, telinga mulai berdenging sakit, mulut membiru, suara bergetar, dan badan pun menggigil. Mereka harus memilih, meneruskan ke depan dengan kondisi yang ada atau bermalam di situ dengan shelter yang ada. Akhirnya diputuskan, tenda pun dibuka hati-hati agar tidak terbawa angin. Tangan mulai tidak bisa diajak bekerja sama. Aahh…mereka melupakan satu minuman penting!! Jahe hangat yang sudah disiapkan dari basecamp. Segera direguklah minuman itu, dan benar-benar sangat menolong!! Hangat mulai merayap di badan mereka. Dan tenda mulai didirikan. Satu persatu mereka masuk untuk berganti pakaian hangat dan menata tempat untuk istirahat. Aaahh..cuaca yang kurang bersahabat tidak menghalangi mereka untuk memasak makan malam. Sungguh hangat suasana malam itu (hwek).

Seperti ilmu yang didapat oleh salah satu teman di pelatihan Gunung Hutan-nya. Bahwa setelah badai berlalu di gunung, maka langit akan kembali cerah dan terang oleh ratusan bintang. Langit akan nampak sangat indah. Dan begitulah adanya… Langit sangat cerah dan indah, kaki gunung juga terlihat sangat WOW…subhanallah… Mereka baru bisa tertidur setelah jam 23.00 lebih. Pemandangan di langit sangat sayang untuk dilewatkan…

Subuh hari, kami disajikan pemandangan seperti ini:

Selanjutnya kita sampai di Pasar Watu dimana banyak terdapat batu berserakan. Di depannya dinding batu berdiri. Jalur disini kelihatannya rawan soalnya bener-bener terbuka dengan kanan dan kiri jurang. Pendaki harus mengambil jalan kekiri sedikit menurun mengelilingi dinding batu terjal. Jangan mengambil jalan lurus dengan cara memanjat dinding terjal ini karena jalur ini buntu.

Selepas itu kita menyusuri jalan setapak yang kanan-kirinya adalah jurang. dan di tengah-tengah jalur tersebut adalah pos Tanah Putih (Pasir Putih). Terdengar riak air di sebelah kiri, debitnya lumayan, mungkin mata air. Setelah itu, jalanan kembali menanjak, terjal, batuan rapuh, namun di ujung sudah menanti… puncak Sumbing…

Hanya satu kata…

Takjub…takjub akan ciptaan-Nya

Kembali diri ini merasa kecil di dunia fana ini. Kembali air mata ini menggenang, demi menyadari kesombongan diri sebagai manusia, kesombongan-kesombongan yang akhirnya menyakiti dunia…

Goal is complete!! Next destination??

…Dari hutan (gunung) aku lari ke pantai… (Cinta-AADC)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: