Posted by: iyok736 | 15 May 2008

Mengapa masih di Bintaro??

Tempat pulang, kata itulah yang dicari oleh semua orang. Baik yang masih sekolah, sudah bekerja, maupun pensiunan. Sebuah tempat yang memberikan sensasi kenyamanan untuk tinggal, berkomunitas, bertetangga, berkembang, dan istirahat. Tak pelak lagi, hal inilah yang memicu semua orang untuk berburu perumahan dan tempat yang ideal menurut pandangan masing-masing. Tak terkecuali kaum komuter di Jakarta.

Kaum komuter, kaum profesional yang memilih untuk bertempat tinggal lumayan jauh dari tempat kerjanya karena lebih mengutamakan beragam aspek yang menurut para pribadi masing-masing menjadi prioritas, seperti hal di atas, lingkungan perkembangan dan pertumbuhan anak, tempat sekolah anak, kedekatan dengan family, dan lain hal.

Kaum yang dipersalahkan atas kemacetan yang terjadi di Jakarta. Tidak adil memang judgement itu. Namun apa mau dikata, kaum komuter di Jakarta merupakan kaum yang paling sering menggunakan jalanan Jakarta setiap harinya. Pada pagi hari, jalanan Jakarta akan penuh dengan kaum komuter dari beberapa wilayah di sekitar Jakarta. Dan terkadang macet pun terjadi. Begitu pula ketika jam pulang kantor. Macet akan semakin menjadi. Akan sangat diperparah jika sampai ada kejadian luar biasa yang berlanjut hingga lebih jam 17.00 WIB. Sperti demo, jalan tergenang, kecelakaan di lajur utama, dan beberapa sebab lain. Dan yang terjadi adalah, durasi keberangkatan dan kepulangan pun menjadi beragam. Dari Bintaro ke Lapangan Banteng kadang memakan waktu hanya 55 menit (jarang banget) dan terkadang bisa mencapai 3 jam!!

Untuk menghindari kemacetan seperti itu, para kaum komuter telah memanfaatkan beberapa alternatif. Ada yang memilih menggunakan sepeda motor, ada yang memilih bersepeda ke kantor (bike to work), ada yang memilih menggunakan jemputan kantor, ada yang tetap menggunakan RMT (Rapid Mass Transportation: kereta api, busway), ada yang masih kolot memanfaatkan bajaj yang polusinya begitu bedebah, juga ada yang memilih rame-rame ber-taksi ria, juga ada saja yang tetap brengsek menggunakan mobil seorang diri, dan yang paling menarik adalah komunitas tebengan.

Komunitas Nebeng, saya temuan setelah membaca Reader’s Digest (ketinggalan banget…huh!). Ada komunitas nebeng di http://www.nebeng.com dari semua penjuru Indonesia. SUngguh menarik, beberapa orang yang lelah dengan kemacetan dan kesepian, menawarkan untuk berangkat kerja bareng-bareng dengan menggunakan kendaraannya (yang searah kantornya). Lebih menghemat BBM, mengurangi kemacetan, mengurangi polusi (dikiit), dan menambah tali silaturahmi.

Sering kita melihat mobil-mobil berhenti di titik-titik tertentu untuk menjemput beberapa orang berpakaian kerja. Mereka bukan joki seperti yang kita lihat di sepanjang jalan sebelum jalur 3 in 1. Mereka itulah kaum nebeng. Seru sangat menurut saya, menjadi komunitas tersendiri, dan tentu saja, menambah keunikan negara tercinta kita ini. Karena menunjukkan bahwa negara kita masih memiliki “jiwa”, “rasa persaudaraan”, dan “saling percaya”.

Saya sendiri memilih 4 cara untuk berangkat ke kantor setiap harinya. Menggunakan RMT (KRL), bersepeda motor jika sedang mood, bersepeda onthel (B2W-an) setiap hari rabu dan jumat, dan menggunakan mobil jemputan kantor jika masih ingin tidur beberapa saat di mobil jemputan.

Jika ingin tahu lebih lanjut tentang bike to work, bisa dilihat di situs mereka di : http://www.b2w-indonesia.or.id

Jika ingin tahu lebih lanjut tentang komunitas nebeng : http://www.nebeng.com

Jika ingin menggunakan RMT, hafalkanlah jadwal dan jenis RMT di Indonesia, seperti PT KAI, Transjakarta (busway)

Mengapa masih tinggal di Bintaro?

Temans…Bintaro adalah tempat saya pulang, tempat saya menemukan kenyamanan, tempat saya dekat dengan orang-orang yang saya sayangi.

Mengapa tidak pindah saja ke tempat yang lebih dekat dengan tempat kerja??

Temans…hidup tidak hanya diisi dengan bekerja. Saya pernah merasakan hidup di beberapa tempat, termasuk bertinggal di kantor karena harus lembur. Saya tahu bedanya, dan memang Bintaro-lah tempat saya untuk pulang. Apapun kondisinya…

Eh…kecuali ada hal lain yang mengubahnya, seperti keputusan berdua dengan istri jika sudah punya keluarga nanti…hehehehe

Semua hal di atas mungkin


Responses

  1. Tinggal di Bintaro sektor berapa mas

    Kalau B2W memang perlu perjuangan, yang dalam waktu dekat ini akan saya lakukan juga karena sudah muak dengan kemacetan Jakarta.

    Dulu waktu masih bujang, saya lebih memilih untuk tinggal di kantor daripada menjadi “gila” di jalanan ibu kota. Pemborosan luar biasa baik dari segi waktu, uang, kelestarian lingkungan, dan kesehatan jiwa.

    Tulisan di blog ini gw banget ^__^

  2. @ Rico: entah knapa saya menulisnya, mungkin waktu itu rada suntuk karena banyak orang bertanya, “Mengapa?? Kenapa?? Bla..bla..bla…”

    Tapi hidup memang harus dinikmati toh?? Rugi klo tidak melakukan apapun yang kita ingin lakukan. Kecuali dilarang oleh agama tentunya…

  3. Salam kenal ya mas??
    Saya jg orang bintaro …

    # salam kenal juga stain…

  4. hahahahaha
    iseng search google malah nemuin postingan ini
    pertanyaan yang sama yang sering diajukan banyak kawan kepada saya. palagi ketika berjumpa kawan kuliah yang entah karena ada urusan apa mampir kejakarta. Kenapa masih dibintaro?
    hummm,kenapa ya?
    Cinta? *halah*
    yang pasti saya masih merasa bintaro tempat yang nyaman untuk menikmati hidup.
    hehe
    just ikutan sharing aja
    salam yo mas.

    # salam kenal juga Widi…
    Memang nyaman tinggal di sana…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: