Posted by: iyok736 | 27 May 2008

Pulang dan Pergi

Aku sudah mulai lupa bagaimana exciting-nya perjalanan berangkat dan pulang kantor. Mungkin karena sudah keseharian, jadilah kurang berasa. Padahal ketika masih awal-awal masuk kerja, merasakan suasana kerja, melakukan perjalanan 46 km pp kantor-rumah, merupakan hal yang sangat kutunggu-tunggu.

Setiap hari pasti ada hal baru yang kutemui. Mengamati sepanjang jalan, memperhatikan fashion orang-orang di jalan, kesibukan, keterburu-buruan, kecelakaan, liat orang berantem di jalan, kehalang demo, kampanye, kerusuhan di jalan, kehujanan, ketinggalan kereta, ga bisa pulang dan musti nginep di kantor, dan masih buanya lagi…

Nah, kecelakaan…ini sesuatu yang sebaiknya diulas sedikit.
Aku pernah melihat beraneka kecelakaan, dan mengalami 2 kali kecelakaan. Dan beberapa diantaranya memakan korban jiwa. Beberapa di antaranya aku menjadi saksi mata.
Contohnya di depan istana negara. Kami saat itu masih terhalang lampu merah. Ketika lampu berubah menjadi kuning, beberapa motor mulai melesat (sebenernya ini salah sih). Ketika motorku mulai menikung ke kanan, aku melihat motor yang semula melesat cepat, terpelanting ke trotoar, penunggangnya menghantam trotoar. Pengendara depan (untungnya) memakai helm standar full. Yang belakang “hanya” mengenakan helm “seadanya”. Dan apa yang terjadi rekans?? Kulihat hanya 3 motor yang berhenti untuk menolong, motorku, dan 2 motor bapak-bapak (tukang ojek).

Segera ku lari menghampiri korban. Kulihat pengendara pertama, dia bergerak pelan, kutanya beberapa pertanyaan. Dia masih bisa merespon. Kuhampiri penumpang lain yang tergeletak lumayan jauh. Dia diam tak bergerak, di sekitar kepalanya menggenang cairan merah kental. Segera kuambil tindakan pertolongan pertama seadanya, karena memang tidak ada medical kit di motor kami. Dengan hati-hati kepala tersebut kusangga dengan mantel hujan yang lumayan empuk untuk kepalanya. Kulonggarkan ikat pinggangnya. Kuraba denyut nadi lehernya, masih ada. Darah mulai mengotori jaket dan tanganku.

“What d heck,” pikirku saat itu. Ingin kuangkat kepalanya untuk sekedar menahan darah tidak mengalir lagi, tapi takut seandainya tulang lehernya ada yang patah. Kurungkan niat itu, dan mulai kuajak dia bicara supaya siuman. Tidak ada respon. Kuajak dia dzikir, matanya bergerak sedikit. “Ah, ada harapan,” aku mulai semakin bersemangat. Setelah beberapa kali kubisikkan di telinga dia, akhirnya dia membuka mata perlahan. Hendak bergerak kiranya dia. Segera kutahan untuk tidak banyak bergerak.

Yang kusesalkan saat itu adalah mengapa saat itu tidak membawa medical kit yang selalu kubawa setiap perjalananku. Kusesalkan mengapa tidak ada satu mobil pun berhenti untuk sekedar mengangkut dia ke rumah sakit terdekat. Ketika ingin kuhentikan sebuah taksi, seorang bapak tadi menahanku. “Mas, gak usah mas, terima kasih. Biar kami bawa saja mereka. Dia memang sebenarnya tidak boleh membawa motor sendiri. Dia punya penyakit epilepsi mas. Mas terus saja, biar kami yang ngurusin. Makasih mas.” Dan seorang bapak lagi sedang sibuk menelpon lewat HP-nya. Padahal saat itu kami berdua menjadi saksi mata bagaimana motor terpelanting karena standar penyangga motor korban saat itu tidak dinaikkan, dan akhirnya menghantam aspal ketika mereka sedikit miring ke kiri dengan kecepatan tinggi.

Ah, mungkin mereka sudah terbiasa dengan yang terjadi di jalanan. Dimana para pengguna jalan mulai egois, memaksa, merangsek, dan terkadang emosional. Karena tidak bisa membantu banyak, aku dan temanku pun melanjutkan perjalanan. Kami memutuskan mengambil rute kebon jeruk, dan aku berhenti di stasiun Tanah Abang karena harus secepatnya menuju Bintaro untuk memenuhi janji.

Rekans…

Sungguh penting adanya berhati-hati mengendara motor. Tidak main-main rupanya peringatan untuk mengenakan helm safety, sepatu, dan sarung tangan ketika berkendara. Jangan lupa memastikan semua bagian kendaraan siap untuk melaju. Rambu-rambu lalu lintas bukan merupakan hiasan, jadi…tolong taati. Sebaiknya kita tidak egois di jalan raya, tidak seenaknya memotong jalur, menerabas zebracross, berhenti mendadak dari kecepatan tinggi, membunyikan klakson tanpa kontrol (kampungan bangedh), meludah ketika berkendara (gak tau kata “jorok” kali ya?), menelpon ketika mengendarai motor or mobil (geblek!!), apalagi ngobrol dengan motor sebelahnya ketika melaju (ini yang super geblek, klo ngobrol knapa ga di warung kopi aja), dan jangan berantem di tengah jalan klo terjadi ciuman atau sentuhan antar kendaraan (yang ada malah lo dipukulin orang sejalanan itu).

Namun ada lagi ternyata yang lebih parah temans…

Kejadian ketika aku dan BCR (rekan) lewat perumahan PI jam 2 pagi. Ada 2 motor yang tau-tau ambruk ketika nikung ke kanan. Pas di depan kami yang saat itu berlawanan arah. Kami pikir mereka akan bangkit karena itu cuman ambruk biasa dan konyol sih ambruknya. Tp kami berhenti untuk menolong, karena mereka tidak segera bangkit. Ketika mendekat, kami mencium aroma alkohol, wah…wah…hari gini masih mabok…
Mereka terkapar tiada berdaya. Yang satu masih merespon. Yang satunya, tertelungkup diam. Ketika hendak kubalikkan badannya, ketika tanganku tinggal beberapa cm lagi, badannya menggelinjang seperti sapi disembelih, dan sungguh…dia mengeluarkan suara seperti sapi disembelih!!! Aku terlonjak kaget dan takut. Inikah sakaratul maut?? Kukuatkan niatku untuk kembali membalikkan badannya supaya dia bisa lebih mudah bernapas. Dan kembali kejadian serupa terulang, dan akhirnya aku hanya bisa terpaku ketakutan ketika suara dan hentakan badannya semakin menjadi. Sementara beberapa penghuni perumahan dan pihak keamanan setempat mulai berlari menghampiri. Yah…saat itu aku ketakutan, baru sekali itu aku merasakan ketakutan untuk menolong orang lain. Ditambah lagi takut seandainya disalahkan oleh warga yang (mungkin) bisa jadi menyalahkan. Alhamdulillah…mereka tanggap setelah kujelaskan sedetilnya. Pihak keamanan mulai mengamankan jalanan, seseorang menghentikan mobil yang akhirnya bersedia untuk memanggil mobil ambulance. Dan dua orang membalikkan tubuh yang sekarat itu sembari berkali-kali beristighfar…

Semua sudah tercover oleh pihak setempat, kami yang kaum komuter pun berpamitan. Melanjutkan perjalanan dalam kebisuan…

Sungguh malam yang sangat panjang…

Namun kemarin sore, aku kembali menemui kebodohan atau karena mungkin rasa sayang yang berlebihan. Seorang bapak mengendarai motor di tengah riuhnya kendaraan hanya dengan menggunakan satu tangan, sementara tangan satunya memeluk anaknya yang duduk di pangkuannya. Di depan bung!! Seolah dia menggendong anaknya!!

Oke…dia mungkin sayang banget dengan anaknya, atau terburu-buru, atau apalah itu. Tp apapun alasannya, tindakannya tidak bisa dibenarkan!! Membahayakan pengendara lain, dan tentunya membahayakan dirinya dan anaknya. Entah apa yang mendasarinya melakukan itu…

Guys…jangan ditiru!!

Yah…perjalanan pergi dan pulang harus dinikmati. Untuk memanaje kebosanan dalam perjalanan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: