Posted by: iyok736 | 2 June 2008

Mahasiswa UMI Meninggal di Gunung

Para backpacker Indonesia kembali berduka. Seorang mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Adyatma Ahmad (20), meninggal di Gunung Bawakaraeng.
Pada hari Senin 26 Mei 2008, korban bersama 11 rekannya mendaki gunung Lampobattang, Kabupaten Gowa, Sulsel.

Dari gunung tersebut, korban bersama tiga orang rekan yang lain melanjutkan pendakian ke gunung Bawakaraeng. Namun dalam perjalanan mereka kehabisan bekal makanan. (demikian menurut sumber)

Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh pihak kepolisian sektor Tinggipocong pada tanggal 1 Juni 2008.

26 Mei s.d. 1 Juni 2008, 4 hari bung!!!

Manusia bisa bertahan hidup tanpa makan selama seminggu. Namun tidak mampu bertahan hidup lebih dari 2 hari tanpa minum!!

Saya agak kurang paham dengan pemberitaan di salah satu media yang saya kutip di atas. Meskipun belum mengetahui jenis gunung serta konturnya, tetapi agak janggal memang kalau seandainya diberitakan meninggal karena kehabisan bekal makanan.

Mungkin sebaiknya pihak kepolisian lebih teliti dalam melakukan autopsi, bisa jadi mereka keracunan tumbuhan karena memutuskan memakan tumbuh-tumbuhan atas desakan kelaparan. Atau mungkin karena sakit dan mereka tidak membawa medical kit. Sebaiknya diteliti lebih lanjut.

Tetapi, terlepas dari semua itu, kawan… Saya menghimbau kepada semua yang suka mendaki gunung atau bertualang. Manajemen perjalanan itu sangat penting. Itu adalah tindakan pertama yang harus direncanakan setelah menentukan target lokasi. Seandainya perjalanan memakan waktu 3 hari, bawa perbekalan hendaknya lebih dari tiga hari atau berdasar rumus n+1 (banyaknya waktu pelaksanaan ditambah 1 hari minimal).

Dan yang pasti, jangan meremehkan kekuatan alam kita ini. Dia bisa berubah-ubah mood-nya sewaktu-waktu. Terkadang bisa dingiiin banget, terkadang bisa geraaah banget. Jadi, sebaiknya sedia payung sebelum hujan toh?? Kalau hendak bermalam di gunung ya sebaiknya bawa tenda toh? Jangan cuman bawa ponco hujan. Niat sakit itu namanya… Dan bekal yang dibawa juga jangan cuman mie instant ma sambel dunk. Naek gunung tuh butuh energi dan tenaga. So supply makanan juga kudu bergizi. Mungkin bisa baca-baca buku panduan lebih lanjut klo kawan-kawan pingin lebih tau detilnya. Tapi yang saya kemukakan di sini, adalah sesuatu yang utama.

Agak ribet memang, tetapi bisa kok dimanaje supaya ga berat bawaannya, ga ribet persiapannya, dan ga kedodoran carriernya. Ada yang namanya koordinasi tim, hehehehehe. Bagi tugas aja bung. Yang namanya satu tim, pastinya akan saling bantu toh?? Jadi, keputusan tim paling terakhir ada di tangan ketua tim. Istilahnya, ketua tim adalah tangan Tuhan dalam sebuah perjalanan, hyieks…

Jadi, patuhi ketua Tim. Kalau harus lanjut ya lanjut. Kalau dibilang turun ya musti turun. Jangan egois tah. Klo ada kenapa-napa, kasihan si ketua Timnya. Disalahin seantero penjuru…ckckckckck…

Jadi inget sama si Mukhlis Rambe. Ilang seminggu apa ya di kaki gunung Salak?? Tapi alhamdulillah bisa ketemu. Dan masih idup…Thanx to Stapala, Wanadri, dan pihak yang telah membantu


Responses

  1. salam🙂

    kemarin baru2 dari puncak bawakaraeng..diantara pos 7 – 8 sy lihat ada tugu penghormatan almarhum…lihat kondisi tempatnya bisa dibilang rumit memang…

    # itulah, sebaiknya klo kurang paham medan, minta tolong saja ke ranger setempat atau bareng mapala setempat, biar aman gitu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: