Posted by: iyok736 | 16 July 2008

Mahasiswa: Pahlawan Tanpa Jasa

Saya baru-baru ini membuka e-mail yang ternyata dipenuhi ratusan posting dan reply dari milis, saking lamanya saya tidak membuka e-mail. Sekitar 3 mingguan karena mengikuti diklat. Beberapa di antaranya ada yang menarik mata untuk diikuti. Salah satunya adalah forward dari teman berikut ini. Sebuah karya olah pikir manusia disajikan dengan gaya satire. Silakan dibaca, silakan komen.

Ah…sekedar memberi tahu, saya sepakat dengan opini penulis. Karena terkadang saya dirugikan juga dengan kondisi riil dari demonstrasi yang akhir-akhir ini terjadi. Cenderung anarkis, merusak, tapi pengecut. Tak jarang saya melihat hasil akhir dari demo yang benar-benar merepotkan bapak-bapak dan ibu-ibu petugas kebersihan yang notabene mereka dibayar berapa ribu rupiah sih?? Tak jarang pula saya mendengarkan keluhan masyarakat sekitar yang terkena imbas dari demonstrasi tersebut. Ketika berubah menjadi “panas” dan berlanjut ke kerusuhan, masyarakat sekitar ketakutan karena sering terkena salah sasaran. Tahukah Anda bahwa mreka sebenarnya tidak mendukung tindakan seperti itu?? Yang mengatasnamakan rakyat, sedangkan rakyat sendiri sebenarnya tidak tahu menahu issue yang dibawa mereka, yang diperjuangkan mereka.

Pernah saya membaca di koran Kompas dan beberapa media lain dimana terdapat pernyataan, “…masyarakat semakin tidak simpatik dengan demonstransi mahasiswa yang mengatasnamakan kepentingan rakyat…”. Suatu ketika saya mengikuti perkembangan berita di televisi (kalau tidak salah Metro TV-namun saya agak lupa detilnya), diberitakan ketika Permadi hendak memperingati semacam happening act, rombongannya bertemu dengan rombongan demonstran yang menuntut SBY-JK mundur ketika awal kenaikan BBM. Yang saya ingat betul adalah inti kata-kata dari pak Permadi yang menurut saya luar biasa. Dengan kalem dan tetep dengan penuh senyum, dia menantang dengan bijaknya para demonstran itu.

Kata beliau, “Kalau mahasiswa hanya berkoar-koar saja seperti ini tidak akan bisa mengubah pemerintahan SBY-JK. Kalau memang mereka yakin bahwa pemerintahan SBY-JK salah dan harus diganti, jangan demo seperti ini. Adakan revolusi kalau berani.” (Maaf kalau tidak sama persis dengan kata-kata aslinya).

Sungguh banyak terjadi ketidaksetujuan atas beragam kebijakan pemerintah. Kalau hanya berkoar-koar tidak setuju dan menuntut untuk dibatalkan, apakah iya bisa menyelesaikan masalah?? Dan kalau “aspirasi” mereka tidak didengarkan, terjadi aksi anarkis yang menurut saya adalah perilaku kekanak-kanakan demi mencuri perhatian pihak lain. (masih ingat dengan perilaku anak kecil yang merajuk dengan cengengnya??)

Sungguh bukan perilaku yang mencerminkan tindakan individu yang berstatus “mahasiswa”. Harusnya dengan status “MAHAsiswa” itu mereka lebih bijak dalam membaca suatu permasalahan. Mencari solusi atau paling tidak jalan untuk meringankan masalah tersebut dengan cara yang lebih baik pula. Bukan tindakan yang tidak simpatik seperti baru-baru ini terjadi.

Ribuan cara terbuka di depan kita untuk memajukan bangsa ini. Untuk mengentaskan kesengsaraan di negara ini. Tapi itu semua membutuhkan tekad, niat yang teguh, dan kemauan untuk memulai. Semua kesuksesan sebenarnya dimulai dari langkah pertama. Ketika sudah dimulai, barulah kedisiplinan untuk menjaga tekad tersebut, menjaga kelanjutan langkah tersebut. Jika kedisiplinan itu sudah menjadi rutinitas dan kebiasaan, maka pasti akan berubah menjadi watak. Dimana watak, Anda tahu sendiri, akan mempengaruhi perilaku dan tindakan. Semua perilaku dan tindakan tentunya berakhir dengan hasil.

Contoh ringan, berkata kotor. Ketika mulut kita pertama kali berkata kotor, maka secara tidak sadar kita akan terhenyak kaget dan merasa bersalah. Bisa banyak sikap menggambarkan hal ini, bisa menutup mulut dengan tangan, bisa terdiam sejenak dengan mata terbelalak, atau bisa dengan ber-istighfar. Namun ketika mulut kita semakin sering mengucapkan kata-kata kotor, maka rasa bersalah tersebut akan semakin pupus. Ketika rasa itu semakin hilang, mulut kita sudah semakin mahir mengucapkan kata-kata kotor tersebut. Dan yang terjadi akhirnya adalah, betapa mudahnya mulut kita berkata kotor. Entah itu ada artinya, entah itu meaningless seperti (maaf) “Djancuk!!” dan semacamnya.

Seandainya saja kita mulai membiasakan melakukan semua hal yang positif. Memang terasa aneh dan berat pada awalnya. Namun, dengan konsistensi dan kedisiplinan. Insya Allah, akan bisa mengubah suatu keadaan menjadi lebih baik.

Ah, sampe lupa. Ini hasil forward dari milis saya.

—-===<>===—-

Gampang betul mendapatkan gelar pahlawan jaman sekarang. Hanya dengan berdemo, mengutuk pemerintah dengan kata-kata kotor, berbuat anarkis sambil bakar-bakaran, menantang polisi sambil lempar batu, memblokir jalan umum dan bikin macet, kasih bogem mentah ke setiap orang yang lewat—-tentu dengan dalih mengatasnamakan rakyat—-dan jadilah sudah.

No offense bagi keluarga-kerabat Maftuh Fauzi, tapi kata teman saya, “Orang gila mati gara-gara demo di jalan kok dibilang pahlawan rakyat.” Teman saya yang lain malah bilang, “Pahlawan itu orang yang berjasa buat negara, lah ini, Maftuh, apa yang diperbuatnya buat Indonesia?” Barangkali kalau para founding fathers negeri ini masih hidup, mereka akan menangis melihat gelar pahlawan diobral begitu murahnya.

Para mahasiswa itu mungkin lupa bahwa kita baru bisa mengatakan diri kita berguna jika hidup kita sungguh bisa membawa manfaat bagi orang banyak. Para mahasiswa ini mungkin merasa sudah terlampau hebat, menganggap diri mereka dewa reformasi, padahal mereka bukan superhero dan superbody yang bisa seenaknya berbuat ini-itu mengatasnamakan rakyat, demokrasi, dan seribu satu jargon lainnya.

Barangkali memang kapasitas otak para mahasiswa itu telah menyusut ukurannya. Mereka enak-enak membakar mobil aparat, padahal mobil itu dibeli dengan uang rakyat. Pagar gedung DPR yang sebenarnya dibangun atas keringat rakyat dirusak begitu saja. Pembatas jalan tol yang dibuat untuk kepentingan rakyat juga ikut dirobohkan. Katanya mereka mendemo soal BBM, tapi malah memblokir dan membuat macet jalan, yang pada akhirnya malah membuat ongkos bensin terbuang sia-sia.

Mereka seenaknya meneriakkan nasionalisasi Freeport. Perusakan alamnya memang sungguh luar biasa, tapi apa mereka pernah mendenger setoran 1% profit untuk suku-suku di sana? Tahukah mereka untuk apa dana yang nilainya cukup besar itu digunakan? Pernahkah mereka mendengar masyarakat Desa Banti, Tembagapura yang direlokasi dan dibuatkan rumah sesuai permintaan namun bagaimana nasib rumah-rumah tersebut sekarang? Kalau mereka tahu keadaan sebenarnya, saya bertaruh mereka tak akan teriak demikian.

Mereka juga ngotot meminta nasionalisasi perusahaan-perusaha an yang sekarang dimiliki asing. Tapi mereka lupa siapa yang sesungguhnya mengobral perusahaan-perusaha an tersebut sehingga sampai ke pangkuan asing tanpa memberi keuntungan buat bangsa sendiri. Mereka lupa bahwa main rampas dengan cara yang kasar tak cuma menurunkan kredibilitas Indonesia di mata dunia, tetapi juga membuat inflasi melompat tinggi yang pada akhirnya justru makin menyengsarakan rakyat.

Mereka berdemo dengan modal nekad serta berbekal narkoba dan miras. Polisi yang sedang menjalankan tugasnya malah mereka sebut “anjing” dan mereka lempari molotov. Tapi ketika jatuh korban, mereka membawa-bawa nama Komnas HAM atau Kontras. Siapa yang sebenarnya pengecut? Mestinya mereka sadar bahwa kepala benjol, terkena pentungan, tersiram water cannon, tertabrak, tertembak, cedera, berdarah, atau bahkan mati itu adalah resiko dari demo yang anarkis. Siapa yang sebenarnya kekanak-kanakan?

Pendek kata, mereka lupa bahwa negara ada karena rakyat. Dan apa yang mereka perbuat sesungguhnya justru sesuatu yang mendzalimi dan menyakiti hati rakyat banyak. Kalau memang ingin membela kepentingan rakyat:

  • mengapa tidak rajin belajar, segera selesaikan kuliah, dan membuat lapangan pekerjaan untuk menampung pengangguran di negeri ini yang jumlahnya bejibun?
  • mengapa tidak memikirkan solusi energi alternatif yang mudah dan murah bagi rakyat, mengingat masih ada 13% rumah tangga Indonesia yang belum terjangkau listrik?
  • mengapa tidak menggugat oknum LSM yang melacurkan diri ke bangsa lain dan menjelek-jelekkan bangsa sendiri demi kepentingan perut mereka?
  • mengapa tidak mendemo para pengemplang BLBI dan menuntut mereka mengembalikan utangnya yang mencapai triliunan rupiah?
  • mengapa tidak mendemo production house yang memproduksi sinetron yang berpotensi mendegradasi moral bangsa ini?
  • dan masih banyak mengapa-mengapa lain yang seharusnya dijawab sebelum mereka turun ke jalan.

Anyway, Anda mungkin heran mengapa kampus UNAS yang notabene tidak menunjukkan batang hidungnya era Mei 1998 tiba-tiba lantas mengemuka? Padahal di kampus “kecil” itu tidak banyak mahasiswa yang aktif dalam kemahasiswaan dan mengusung ideologi garis keras. Atau mungkin Anda juga bertanya-tanya mengapa kampus-kampus mainstream seperti UI, IPB, ITB, UGM, Undip, Unpad, Unair malah relatif tidak bergerak melawan pemerintah?

Ada sejumlah opsi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, mungkin mereka tidak ada dalam peta percaturan pergerakan mahasiswa sehingga lepas dari radar pengawasan aparat dan intelijen dan bisa bebas berkoar begitu saja. Kedua, jumlah aktivis yang kecil justru merupakan peluang untuk disusupi dan dimanfaatkan guna provokasi pihak-pihak tertentu di kampus-kampus tersebut.

Tapi barangkali jawaban yang lebih pas adalah karena mereka (maaf) tidak secerdas senior-senior mereka dari kampus-kampus mainstream. Para mahasiswa dari kampus mainstream mungkin cukup intelek untuk memahami bahwa kenaikan BBM memang berdasar alasan-alasan yang rasional dan relatif tidak banyak alternatif lain selain mengurangi subsidi. Wajar jika demo yang dilakukan mahasiswa dari kampus-kampus utama tersebut hanya ala kadarnya.

Dugaan ini makin kuat mengingat demo dari UNAS dan kampus “kecil” lainnya juga makin irasional. Awalnya mereka menuntut pertanggungjawaban polisi atas meninggalnya rekan mereka. Namun, ujung-ujungnya mereka menuntut Kapolsek, Kapolda, Kapolri, hingga SBY-JK mundur karena dianggap tidak kompeten. Sungguh merupakan tuntutan demo yang terlalu garing untuk dibilang sebagai sesuatu yang lucu. Apalagi secara kasat mata terlihat adanya aksi provokasi, penyebaran fitnah, dan pembentukan opini yang hanya mencari-cari kesalahan aparat kepolisian semata.

Saya percaya aparat kepolisian dan intelijen cukup cerdas untuk bisa mengatasi persoalan-persoalan semacam ini. Mahasiswa juga perlu dikembalikan ke tempat duduknya semula sebagai agen perubahan yang mengusung nilai-nilai intelektual yang berbudi pekerti luhur. Mari sama-sama berdoa agar bangsa ini tak sampai terjebak pada chaos yang pernah terjadi sudah-sudah. Amien.

Dan ngomong-ngomong soal BBM, tahukah Anda bahwa di Simelue harga bensin mencapai Rp 20.000 per liter? Anehnya, masyarakat di sana tak banyak protes dan perekonomian masih terus berputar.

Author: Nofie Iman

—==<>==—

Semoga menambah khasanah kebijakan kita dalam “membaca”


Categories

%d bloggers like this: