Posted by: iyok736 | 16 July 2008

Semua Orang itu Guru…

Tidak salah menurut saya apa yang menjadi slogan hidup teman saya. Slogan dia berbunyi, “Semua orang itu guru, alam raya adalah sekolahku” yang menggambarkan sosok dia yang tiada pernah berhenti belajar. Setiap bertemu orang lain, berarti dia bertemu dengan guru baru dimana dia bisa belajar beragam ilmu. Setiap perjalanan di hari-harinya adalah sebuah pembelajaran yang sangat bermakna.

Slogannya lah yang mempengaruhi saya untuk terus belajar dari masyarakat ketika masa belajar saya di kelas-kelas sudah selesai. Sungguh begitu banyak “guru” bagi saya. Salah satunya adalah sahabat saya sendiri.

Suatu saat ketika kami melakukan perjalanan bareng, dia mengajak jalan-jalan ke tempat yang sebenarnya malah jarang dikunjungi para turis. Yaitu sebuah pasar tradisional. Dengan nyantai dia berjalan-jalan dan memilih-milih barang yang sebenarnya hanya berupa keperluan dan kebutuhan sehari-hari. Ketika membeli kami selalu menyapa penjualnya dengan ramah, dan sang penjual pasti tersenyum dengan ramah pula. Apalagi sosok dia yang humoris. Namun ketika membeli dia tidak pernah menawar sengit, hanya sedikit menurunkan harga secara wajar.

Kami pun hanya membeli kebutuhan untuk perjalanan saja, seperti misalnya sayuran dan bahan lauk untuk dimasak bareng-bareng ketika istirahat nanti. Dan biasanya kami membeli di penjual yang sudah kelihatan sepuh dan barang dagangannya tidak selengkap yang lain. Sampai suatu saat, dia berhenti hanya untuk membeli sapu lidi!!! Padahal saat itu kami sedang dalam ekspedisi gunung. Aneh kupikir, namun tidak kutanyakan saat itu.

Ketika kami sudah berjalan kembali, barulah dia menjelaskan. Alasan mengapa dia cenderung berbelanja ke pasar tradisional adalah karena dia ingin melestarikan salah satu budaya bangsa ini (idealis memang). Dia lebih suka membeli pada penjual yang barang dagangannya lengkap, karena itu menandakan tingkat kesejahteraan penjual. Dia ingin supaya hartanya lebih bermanfaat untuk penjual tersebut. Tidak…tidak…dia bukan tidak pintar menawar karena pernah kulihat dia menawar cinderamata dengan sengitnya. Dia hanya tidak ingin mengurangi hak sang penjual.

Mengenai sapu lidi… Apakah sapu lidi adalah barang habis pakai?? Tentu tidak. Apakah sapu lidi barang yang cepat rusak?? Tergantung penggunaan. Berdasar pada hal itu, analisa dia adalah bahwa omzet sang penjual pastilah jauh dari rata-rata pendapatan pedagang yang lain. Jauuh sekali…. Dan bagaimana seandainya hanya itu mata pencahariannya?? Sungguh ironis bukan?? Itulah mengapa dia ingin supaya dia bisa meratakan rizqi yang dia peroleh untuk orang yang benar-benar membutuhkan. Dan untuk apa sapu itu?? Dia tinggalkan begitu saja di depan sebuah rumah yang teramat sangat sederhana. Dan kami melanjutkan perjalanan kami kembali…

Sungguh sebuah konsep “Pay Forward” yang sangat sederhana…

Ketika kami turun gunung…hehehehe… Kami kembali berbelanja. Kali ini belanja kami lain. Kami berbelanja oleh-oleh untuk sobat dan “keluarga” kami di kampus (saat itu status kami masih mahasiswa).

Banyaaak sekali buah tangan yang dibeli. Dan kami bagi di masing-masing carrier kami. Di tengah perjalanan dia bertanya,

“Yok, loe menikmati perjalanan kali ini nggak??”

Jelas aku menjawab, “Absolutely!!!

Dia menimpali, “Gw pasti menikmati setiap perjalan gw. Trus klo pulang pasti gw sempetin beli oleh-oleh.”

“Untuk apa?”, saya bertanya dengan penasaran. “Bukannya loe makin repot pulangnya?”

Alah, kan naik kendaraan ini. Gw pingin ngasih isyarat ke temen-temen klo gw tuh sehat-sehat aja di jalan. Gw menikmati banget perjalanan gw. Dan gw ga pernah lupa ma mreka. Buktinya ya oleh-oleh ntu. Gw bawa supaya mreka tau klo memang gw ga repot buat berbagi sama mreka.” Dia menjelaskan dengan bijaknya

“Tp kan loe bisa beli di deket-deket rumah ntar?”, gw masih berusaha membantah.

“Beda, Yok. Rasanya sangat beda. Mreka memang ga tau. Tp Allah dan malaikat tau tuh. Esensinya kan gw pingin berbagi perasaan gw. Ga mungkin dong gw bohong ma diri gw sendiri.” Dia membantah dengan taktisnya.

Saya smakin berpikir dalam, karena dulu sobat saya itu sering membawa oleh-oleh yang merupakan ciri khas lokasi perjalanannya. Biasanya makanan atau kue khas yang bisa dinikmati rame-rame. Tak lupa jika ada cinderamata menarik dia akan bagi-bagi ke kami smua (yang kebagian sih…hehehe)

Dan saya akhirnya ketularan teman saya itu. Bahkan ketika sekedar jalan-jalan ke Bintaro Plaza bareng temen-temen, saya usahakan benar untuk membawakan paling tidak kwaci buat teman-teman…hahahaha. Jadi ingat dulu pas tingkat 2 bawain satu bungkus kwaci yang baru habis setelah 3 hari!!! Hahahahaha…

Sungguh teman, jika kita membelanjakan uang dengan spontan hanya dengan tujuan berbagi rizqi, rasanya akan sangat memuaskan perasaan.

Guru-guru saya memang sangat luar biasa.

Btw, pernah tidak kalian mendapatkan sebuah pelajaran berharga dari seorang anak kecil yang mendapatkan upah dari mengangkat sekeranjang pasir?? Mengangkat sekeranjang pasir seberat, entahlah, mungkin 30 kg-an, melewati tanjakan berbatu tajam di kaki gunung berapi di tanah Jawa.

Saat kutanya adik kecil itu, dia menjawab dengan lugunya, “Satu keranjang 300 rupiah, Mas”. Dan dalam perjalananku saat itu aku menangis dalam sendiriku…menjauh dari turis-turis yang sedang menikmati pemandangan alam saat itu.

Jakarta, ketika mengingat kenangan lama di tengah sepinya kantor…

(Maap…capek mo miring-miringin kata-kata ga bakunya…hehehehe…)


Responses

  1. Sip…
    Inspiratif bro…

    # Tapi (sayangnya) sobatku itu sudah nikah, Po. Jarang bisa jalan bareng lagi

  2. mbak/mas hehehe… wordpressnya pasangi iklan biar dapat duit aku liat di search engine blog saudara lumayan teratas , ni link program bisnis yang menyediakan iklan dan kita dapat bayaran
    http://www.kumpulblogger.com sekarang wordpress juga bisa bergabung , dulu hanya blogger


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: