Posted by: iyok736 | 28 July 2008

Buku, Sekolah, Duit…

Harga-harga buku yang mahal terkadang menjadi salah satu alasan bagi keluarga-keluarga kurang mampu untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.

Untuk mengantisipasi hal seperti ini, sebenarnya sudah banyak cara yang digunakan untuk sedikit mengatasinya. Cara-caranya antara lain;

  1. Depdiknas menyediakan beberapa soft copy buku-buku pelajaran (beberapa bisa Anda lihat di sini)
  2. Perpustakaan keliling
  3. Sumbangan buku ke perpustakaan sekolah-sekolah
  4. Sekolah yang tidak mewajibkan murid untuk membeli buku
  5. dan tentunya Anda bisa lebih kreatif memberikan alternatif-alternatif lain

Mengenyam pendidikan adalah hak setiap manusia yang terlahir di dunia ini. Mungkin memang kalau bukan pendidikan formal di sekolah, bisa juga dengan pendidikan informal di luar sekolah. Pendidikan-pendidikan yang mengutamakan skill dan ketekunan. Seperti kursus-kursus keahlian yang dapat dikembangkan sendiri.

Menurut saya tidak begitu penting sekali pendidikan formal jika hendak berkembang di bidang selain kerja di kantoran. Memaksakan untuk bersekolah dan mendapatkan pendidikan formal sedangkan biaya tidak tertutupi dan ketika lulus tidak lekas mendapatkan pekerjaan, tentunya akan mempengaruhi mindset masyarakat. Bahwa bersekolah tinggi-tinggi tidak menjamin akan mendapatkan pekerjaan yang “layak” dalam pandangan masyarakat.

Tidak jarang saya mengobrol dengan orang-orang dalam perjalanan saya. Baik orang tua maupun anak-anak tentang pendidikan. Seperti misalnya ketika perjalanan hidup saya diisi dengan bakti sosial di kampus, membantu teman-teman memberikan sumbangan peralatan sekolah untuk anak-anak lapak (pemulung). Beberapa di antara mereka yang dulu menjadi akrab dengan saya (waktu kuliah) saya ikuti perkembangan pendidikannya. Ketika terakhir bertemu saya kaget, karena saat jam sekolah dia malah asyik bermain dengan teman sebayanya dengan pakaian khas pemulung. Saat saya ajak ngobrol dan tanya mengapa tidak sekolah, dia menjawab dengan santainya, “Ga ada duit, Kak”.

Tentulah saya kaget mendapatkan jawaban seperti itu. Karena duit sebenarnya adalah urusan dan permasalahan orang tua. Mengapa anak-anak yang masih kecil itu direcoki dengan pemikiran “tidak punya duit”?? Dan itu dijadikan alasan pembenaran untuk tidak memberikan pendidikan bagi putra putri mereka sendiri dan memilih mempekerjakan mereka untuk sekedar menambah penghasilan? Wow…

Lain halnya ketika saya menunggu kereta ke kantor. Seorang anak menawarkan jasanya untuk menyemir sepatu saya. Yeah…sepatu saya sebenarnya masih bersih, tapi tidak ada salahnya bukan jika saya akhirnya bisa ngobrol dengan anak itu? Iseng saya sedikit mengorek info

Saya : “Ga sekolah, dik?”

Dia : “Sekolah dong, om.”

Saya : “Sekolah siang ya? Kelas berapa?”

Dia : “Iya, om. Kelas lima SD.”

Saya : “Kalau teman-temanmu yang lagi jualan koran itu, mereka sekolah juga?”

Dia : “Mereka sekolah siang juga, om. Ada yang sudah SMP.”

Saya : “Kamu memang boleh nyemir sepatu kayak gini sama orang tua kamu?”

Dia : “Kan saya sekolah , om. Buat bantu ibu ma buat jajan.”

Saya : “Hooo…”

Dia : “Sudah, om” (sambil menyodorkan sepatu yang setengah selesai karena kereta saya sudah datang)

Sayapun memberikan sepotong sepuluh ribuan dan berterima kasih. Ketika hendak bergegas masuk kereta dia memanggil, “Kembaliannya, om!” Saya pun menjawab, “Buat kamu saja!” dan pintu kereta pun tertutup rapat, memisahkan kaum borjuis sekitar saya dengan kaum marginal yang menanti kereta ekonomi selanjutnya…

Lain lagi ketika (lupa di mana) saya menunggu angkutan umum. Ada segerombolan remaja berpakaian nyentrik ala gothic halah yang saya tidak tahu apa sebutannya. Mereka bergerombol nggloso sambil bercanda, merokok, dan bermain okulele. Iseng saya tanya ke mereka, “Tumben jam segini kalian sudah kumpul di sini. Memangnya ga sekolah?” Dan salah satu dari mereka pun menjawab (inti jawaban kek gini), “Buat apa sekolah? Banyak tuh yang sekolah tapi pada nganggur. Ada malah yang jadi preman di kampung gw. Klo mo jadi preman ga usah pake sekolah.” Dan yang lain pun serempak terbahak-bahak. Saya pun tidak melanjutkan percakapan…cukup…

Yeap…sekolah atau tidak sekolah sebenarnya adalah pilihan. Masalah duit adalah masalah rizqi. Dan rizqi ada yang mengatur. Rizqi itu tersebar di seantero penjuru bumi. Tergantung pada manusianya, apakah dia berniat untuk menyongsong dan menyambut rizqi yang tersebar itu. Ataukah pasrah dengan keadaan dan menyalahkan Tuhan karena kondisinya. Itu adalah pilihan…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: