Posted by: iyok736 | 7 January 2010

Mari Bercermin

bercermin

Saya yakin hampir setiap hari Anda bercermin hanya untuk sekedar mematut diri apakah tampilan kita sudah pantas, sudah rapi, dan sudah “cantik”. Bahkan kadang terkadang, jika kita sedang drop, sedang mengalami defisiensi semangat, tertekan, maupun memiliki permasalahan yang membuat kita hampir dan bahkan menangis, kita terkadang menggunakan bantuan cermin untuk membantu berdiri kembali.

Pernah suatu ketika mantan pimpinan saya bercerita bahwa jika dia sedang tertekan dalam pekerjaannya, maka dia akan “mengunjungi” restroom yang tentunya menyediakan cermin besar. Di situlah beliau menumpahkan tangis, gundah, atau hanya sekedar menghela napas. Ketika sudah merasa cukup, maka beliau akan memandangi sirinya di cermin, tepat di mata, dan berkata, “Saya bisa!! Saya pasti bisa!! Semua hal di dunia ini ada solusinya!!”

Dan setelah beberapa kali saya mencoba melakukannya, perilaku seperti beliau ini sampai sekarang menjadi bagian dari perilaku saya ketika mengalami hal serupa. Ajaib…memang mujarab memang.

Dalam event yang lain ketika saya diundang untuk mengikuti training Pengembangan Self-Competence, saya mendapatkan materi tentang cermin. Namun titik beratnya adalah tentang kita terhadap lingkungan sekitar kita. Bagaimana sih??

Hmm….begini kawan…

Manusia merupakan makhluk individu dan makhluk sosial bukan? Tidak ada yang menyangkal hal ini, bahkan mbah Darwin sekalipun.🙂

Kita fokus dalam bahasan makhluk sosial yang tentunya sering berinteraksi dengan makhluk yang lain.

Kita sesungguhnya adalah cermin bagi manusia yang lain yang kita ajak untuk berinteraksi. Ketika kita tersenyum kepada manusia sekitar kita, maka kita akan mendapatkan senyum balik dan suasana yang nyaman. Namun cobalah ketika kita menunjukkan muka cemberut dan jutek. Alhasil, sekitar kita seolah juga menunjukkan hal serupa. Suasana seolah terasa sangat menjemukan, tidak nyaman. Ketika dengan ramah mengajak berbincang lawan bicara kita, maka in return kita juga mendapatkan perlakuan yang sama (di sini saya mengesampingkan masalah kepandaian berbicara). Namun cobalah ketika kita marah-marah kepada lawan bicara kita. Maka bisa dipastikan, lawan bicara kita akan merasakan kedongkolan dan bahkan kemarahan yang lebih berlipat. Sesungguhnya kawan…kita adalah cermin bagi manusia sekitar kita.

Tidak heran bukan mengapa ada yang bilang, “Senyum adalah ibadah.” Karena kawan, senyum sangat multibenefit (maksudnya banyak manfaatnya, hehehe).

Dalam buku the Secret (Rhonda Byrne) juga (entah kebetulan atau tidak) dijelaskan tentang hal yang mirip dengan ini. Yaitu bahwa adanya hukum tarik menarik di alam semesta (Law of Attractions). Menurut Bob Proctor, filsuf, pengarang, dan pembimbing pribadi, kita bekerja dengan satu daya yang tak terhingga. Semua membimbing sendiri dengan hukum-hukum yang persis sama. “Segala sesuatu yang datang ke dalam hidup Anda ditarik oleh Anda ke dalam hidup Anda. Dan segala sesuatu itu tertarik ke Anda oleh citra-citra yang Anda pelihara dalam benak. Oleh apa yang Anda pikirkan (hlm. 4). Lalu Rhonda menegaskan, tidak menjadi soal siapa Anda atau di mana Anda berada, hukum tarik-menarik membentuk seluruh pengalaman hidup, dan hukum yang saat berdaya ini melakukannya melalui pikiran-pikiran Anda (hlm 5).

Bagi Rhonda, semesta adalah segalanya. Coba simak ungkapan selanjutnya: Jadi, ketika Anda merasa buruk, ini adalah komunikasi dari semesta yang berkata, “Peringatan! Ubah pikiran sekarang juga. Tercatat frekuensi negatif. Ubah frekuensi. Mulai menghitung mundur untuk perwujudan. Peringatan!”

Dengan kata lain, kita akan mendapatkan hal-hal yang negatif jika kita mengeluarkan energi-energi yang menariknya. Sederhananya, jika kita (bahkan cuma dengan) berpikir negatif, maka in return, hal-hal negatif akan berada di sekitar kita dan senantiasa menyelimuti kita. Hiii….ngeri deh…

Namun jika kita memancarkan hal-hal yang positif…bisa Anda tebak bukan hasilnya?? Bahkan ketika kita hanya menyimpannya dalam benak kita, insya Alloh keinginan dalam benak kita tersebut akan berubah menjadi harapan, dimana harapan sebenarnya adalah kata lain dari doa. Anda tahu sendiri bukan bahwa doa pasti didengarkan oleh Alloh SWT? Dan yakinlah, bahwa Alloh tidak pernah tidur, tidak pernah lupa, dan senantiasa mendengarkan doa-doa kita. Dan Dia Maha Kuasa untuk sekedar mengabulkan doa-doa kita. Bahkan ketika kita sudah lupa dengan doa-doa kita, Alloh masih mengingat dan akan mengabulkannya. Hanya terkadang kita lupa dan tidak sadar bahwa doa kita sudah dikabulkan.

“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” Ini adalah quote favorit saya dari buku Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.

Jadi…saya tawarkan kepada Anda wahai kawan…

Apakah Anda akan berhenti untuk bermimpi dan berharap?

Apakah Anda akan lupa untuk tersenyum tiap padi dan tiap hari?

Apakah Anda akan terlalu egois hanya untuk sekedar “ramah” terhadap lingkungan sekitar Anda??

Semua adalah pilihan Anda…

regards,

Iyok


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: