Posted by: iyok736 | 9 August 2011

Pasir dan Batu

Dua orang sahabat sedang berjalan di padang pasir. Selama dalam perjalanan mereka berdebat tentang sesuatu. Salah seorang dari kedua sahabat itu menampar temannya, dan yang ditampar itu merasa sakit tetapi dia tak berkata apa apa, hanya menulis diatas tanah : “HARI INI TEMAN BAIKKU MENAMPARKU”
Mereka tetap berjalan sampai mereka menemukan sebuah oasis (sumber air), mereka sepakat untuk mandi, teman yang telah ditampar tergelincir dan hampir saja tenggelam di oasis tersebut, tetapi temannya datang dan menolongnya, dan setelah diselamatkan oleh temannya dari bahaya, dia menulis di Batu “HARI INI TEMAN BAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU”

Teman yang telah menampar dan yang telah menyelamatkan nyawa teman baiknya itu bertanya kepadanya, “Setelah saya menyakitimu, kamu menulisnya di tanah dan sekarang, kamu menulisnya diatas batu, mengapa?

Temannyapun menjawab : “Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya diatas tanah, agar angin dapat menerbangkannya dan dapat menghapusnya sehingga dapat termaafkan. Tetapi ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik kepada kita, kita harus mengukirnya diatas batu dimana tak ada angin yang dapat menghapusnya”

“Tulislah sakit hatimu di atas tanah, dan Ukirlah kebaikan dia atas batu”

Posted by: iyok736 | 8 August 2011

Anjing Serakah

Seekor anjing yang mendapatkan sebuah tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke rumahnya secepat mungkin dengan senang hati. Ketika dia melewati sebuah jembatan yang sangat kecil, dia menunduk ke bawah dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air di bawah jembatan itu. Anjing ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa sebuah tulang yang lebih besar dari miliknya.

Bila saja dia berpikir jernih, dia akan tahu bahwa itu hanyalah bayangannya. Tetapi keserakahan telah menutup kejernihan pikirannya, sehingga anjing itu segera menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai dengan maksud merebut tulang yang dibawa anjing tak dikenal yang sebenarnya hanya bayangannya itu. Byur!! Seiring anjing tersebut melompat ke sungai, tulang yang dilepaskannya pun ikut jatuh ke air dan tenggelam. Anjing serakah tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tepi sungai. Saat dia selamat tiba di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang di bawanya malah hilang, dan dia tidak mendapatkan apa yang dia harapkan. Anjing itu hanya bisa menyesali apa yang terjadi dan menyadari betapa bodohnya dirinya.

Sangatlah bodoh memiliki sifat yang serakah. Karena itulah Tuhan melarang hamba-Nya memiliki sifat serakah.

Posted by: iyok736 | 8 August 2011

Semut dan Belalang

Pada siang hari di akhir musim gugur, satu keluarga semut yang telah bekerja keras sepanjang musim panas untuk mengumpulkan makanan, mengeringkan butiran-butiran gandum yang telah mereka kumpulkan selama musim panas. Saat itu seekor belalang yang kelaparan, dengan sebuah biola di tangannya datang dan memohon dengan sangat agar keluarga semut itu memberikan sedikit makan untuk dirinya.

“Apa!” teriak sang Semut dengan terkejut, “tidakkah kamu telah mengumpulkan dan menyiapkan makanan untuk musim dingin yang akan datang ini? Selama ini apa saja yang kamu lakukan sepanjang musim panas?”

“Saya tidak mempunyai waktu untuk mengumpulkan makanan,” keluh sang Belalang; “Saya sangat sibuk membuat lagu, dan sebelum saya sadari, musim panas pun telah berlalu.”

Semut tersebut kemudian mengangkat bahunya karena merasa gusar.

“Membuat lagu katamu ya?” kata sang Semut, “Baiklah, sekarang setelah lagu tersebut telah kamu selesaikan pada musim panas, sekarang saatnya kamu menari!” Kemudian semut-semut tersebut membalikkan badan dan melanjutkan pekerjaan mereka tanpa memperdulikan sang Belalang lagi.

Ada saatnya untuk bekerja dan ada saatnya untuk bermain.

Posted by: iyok736 | 5 August 2011

Gagak yang Cerdas

Pada suatu musim yang sangat kering, dimana saat itu burung-burungpun sangat sulit mendapatkan sedikit air untuk diminum, seekor burung gagak menemukan sebuah kendi yang berisikan sedikit air. Tetapi kendi tersebut merupakan sebuah kendi yang tinggi dengan leher kendi sempit. Bagaimanapun burung gagak tersebut berusaha untuk mencoba meminum air yang berada dalam kendi, dia tetap tidak dapat mencapainya. Burung gagak tersebut hampir merasa putus asa dan merasa akan meninggal karena kehausan.

Kemudian tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. Dia lalu mengambil kerikil yang ada di samping kendi, kemudian menjatuhkannya ke dalam kendi satu persatu. Setiap kali burung gagak itu memasukkan kerikil ke dalam kendi, permukaan air dalam kendipun berangsur-angsur naik dan bertambah tinggi hingga akhirnya air tersebut dapat di capai oleh sang burung Gagak.

Walaupun sedikit, pengetahuan bisa menolong diri kita pada saat yang tepat.

Posted by: iyok736 | 4 August 2011

Kisah Dua Ekor Kambing

Dua ekor kambing jantan berjalan dengan gagahnya di sebuah pegunungan yang curam. Mereka terpisah sebuah jurang yang sangat dalam dengan dasar sebuah sungai yang mengalir sangat deras. Kedua ekor kambing itu hendak menyeberangi jurang untuk pulang ke rumah masing-masing. Saat itu secara kebetulan mereka secara bersamaan keduanya tiba di tepi jurang. Sebuah pohon yang lama tumbang, telah dijadikan warga satwa di sekitar sebagai jembatan untuk menyeberangi jurang tersebut. Pohon yang dijadikan jembatan tersebut sangatlah kecil sehingga tidak dapat dilalui secara bersamaan oleh dua ekor kambing tersebut tanpa terjatuh. Jembatan yang sangat kecil itu akan membuat orang yang paling berani pun akan menjadi ketakutan. Tetapi kedua kambing tersebut tidak merasa ketakutan. Rasa sombong dan harga diri mereka telah mematikan rasa takut yang muncul. Masing-masing kambing tersebut tidak mau mengalah dan memberikan jalan terlebih dahulu kepada kambing lainnya.

Saat salah satu kambing menapakkan kakinya ke jembatan itu, kambing yang lainnya pun tidak mau mengalah dan juga menapakkan kakinya ke jembatan tersebut. Akhirnya keduanya bertemu di tengah-tengah jembatan. Keduanya masih tidak mau mengalah dan malahan saling mendorong dengan tanduk mereka. Tanduk-tanduk mereka pun beradu. Tidak ada yang mau mengalah!! Salah satu kambing kemudian mengambil ancang-ancang untuk menanduk lebih keras. Akibat tandukan tersebut, kambing satunya terdorong ke belakang. Karena merasa tersaingi, kambing yang terdorong tersebut mengambil ancang-ancang untuk membalas. Namun lawannya juga sudah mengambil ancang-ancang.

Dash!!! Suara tanduk beradu sangat keras. Mereka imbang!!

Kembali kedua kambing itu mengambil ancang-ancang dan menanduk lebih keras. Jembatan kecil itu pun bergoyang-goyang dan semakin melengkung karena hentakan kedua kambing. Semakin keras kedua kambing itu menanduk, goyangan jembatan semakin kencang.

Kesombongan kedua kambing itu telah mematikan kewaspadaannya. Sehingga ketika suara jembatan yang hendak patah pun tidak mereka hiraukan. Akhirnya pada tandukan yang ketiga jembatan tersebut patah tepat ditengah-tengah, sehingga kedua kambing tersebut akhirnya jatuh ke dalam jurang dan tersapu oleh aliran air yang sangat deras di bawahnya.

Kesombongan hanya berujung pada keras kepala. Lebih baik mengalah daripada mengalami nasib sial karena keras kepala.

Posted by: iyok736 | 3 August 2011

Gazelle Idaman

Sepeda Onthel atau juga terkadang disebut sebagai sepeda unta, sepeda kebo, atau pit pancal adalah sepeda standar dengan ban ukuran 28 inchi yang biasa digunakan oleh masyarakat perkotaan sampai tahun 1970-an. Berbagai macam merek sepeda onthel dari berbagai negara beredar di pasar Indonesia. Pada segmen premium terdapat misalnya merek Fongers, Gazelle dan Sunbeam. Kemudian pada segmen di bawahnya diisi oleh beberapa merek terkenal antara lain seperti Simplex, Burgers, Raleigh, Humber, Rudge, Batavus, Phillips dan NSU.

Kemudian pada tahun 1970-an keberadaan sepeda onthel mulai digeser oleh sepeda jengki yang berukuran lebih kompak baik dari ukuran tinggi maupun panjangnya dan tidak dibedakan desainnya untuk pengendara pria atau wanita. Waktu itu sepeda jengki yang cukup populer adalah merek Phoenix dari China. Selanjutnya, Sepeda jengki pada tahun 1980-an juga mulai tergeser oleh sepeda MTB sampai sekarang.

Sepeda Onthel kemudian pada tahun 1970-an secara perlahan lebih banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan dibanding diperkotaan. Namun pada akhirnya karena usia dan kelangkaan, sepeda onthel telah berubah menjadi barang antik dan unik. Mulailah situasi berbalik, sepeda onthel yang dulunya terbuang, sekarang pada tahun 2000-an justru diburu kembali oleh semua kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa sampai pejabat. Orang Jawa mengatakan inilah “wolak-waliking jaman”.

Keranjingan masyarakat terhadap sepeda onthel adalah tepat bersamaan dengan berkembangnya ancaman global warming. Bisa jadi ketika, BBM semakin mahal dan polusi udara semakin tidak terkendali, komunitas sepeda onthel akan menjadi salah satu garda terdepan untuk mensosialisasikan kembali pentingnya naik sepeda.

Sumber: di sini

Artikel di atas mengingatkan kembali pada mantan sepeda ayah saya. Sepeda yang setiap pagi rutin mengantarkan kami sewaktu mengenyam pendidikan SD, menemani beliau ke sawah tiap hari, dan transportasi favorit sewaktu mengunjungi para kerabat.

Dalam perjalanan jauh, ayah saya selalu mengikat kaki ke bawah sadel untuk menghindari kecelakaan, karena seringnya kaki-kaki mungil anak2 masuk ke jari-jari sepeda. Hal ini berlanjut sampai dirasa saya sudah lebih besar which is kelas 2 SD. Aman memang, tapi begitu sampai di lokasi kaki selalu kesemutan.

Beberapa waktu yang lalu sewaktu saya berkeliling di imogiri saya menemukan kembali sepeda yang mirip dengan punya beliau. Satu-satunya sepeda ontel yang saya idamkan. Dua kali putaran di jalan itu untuk memastikan bahwa itu adalah sepeda idaman saya. Sebuah sepeda bermerk Gazelle khas dengan patung gazelle kecil di ujung spakbor depan. Rem tangan tanpa kabel, dan sadel kulitnya yang khas. Berwarna hitam kusam dengan chain protector hanya di bagian atas (tidak full). Semoga doku mencukupi untuk menjemputnya kelak…

Thanx for the pict in here

Posted by: iyok736 | 2 August 2011

Gempol Pleret Pelepas Dahaga

Dalam posting sebelumnya saya menyebutkan sebuah menu khas Solo, yaitu Gempol Pleret. Selidik punya selidik, ternyata minuman ini sudah jarang ditemui di Solo. Minuman yang hampir mirip cara penyajiannya dengan cendol atau dawet ini sebenarnya rasanya nikmat dan menyegarkan. Entah mengapa semakin jarang dipasarkan. Tergelitik jari untuk mengupas tentang Gempol Pleret.

Gempol pleret terdiri atas tiga unsur utama: gempol, pleret, dan kuah. Gempol adalah sebutan untuk bulatan-bulatan putih terbuat dari meniran (pecahan bulir padi). Selain itu ada pleret, yang terbuat dari adonan tepung ketan dan sedikit gula jawa. Dan kuahnya sendiri adalah kuah santan, ada yang disajikan dengan rasa kuah manis, dan ada yang disajikan dengan kuah berasa agak gurih. Yang unik dari minuman ini adalah gempol dan pleretnya. Keduanya berasa dari bahan yang sama yaitu tepung beras, namun berbentuk dan berasa beda. Gempol berbentuk bundar, berwarna putih, dan agak kasar serta rasanya agak gurih. Sedangkan pleret berbentuk tipis panjang seperti kulit, berwarna cokelat muda dan teksturnya lembut, dan rasanya manis. Hal ini mungkin memiliki makna tersendiri yang saya belum tahu. Mungkin artinya gurih dapat dipadukan dengan manis, atau kasar dengan lembut, atau putih dengan cokelat. Entahlah…

Jika ingin merasakan kembali nikmatnya gempol pleret namun susah untuk ditemukan, mari kita buat sendiri.

Bahan:

500 gr tepung beras
1 sdt pasta pandan
250 gr tepung ketan
800 ml santan kental dari 1 butir kelapa
250 gr gula merah
300 ml air pandan
Garam secukupnya
Daun pisang secukupnya

Cara membuat :

Gempol : campur tepung beras, sedikit air pandan, santan dan sedikit garam. Kukus selama 1 jam, angkat. Setelah agak dingin, ambil sedikit adonan tepung beras, bentuk bulat seukuran buah duku, kukus kembali sekitar 1 jam. Angkat, tiriskan

Pleret : campur tepung ketan, sedikit gula merah, garam dan sisa air pandan, aduk rata. Tuang adonan tipis-tipis diatas daun pisang, kukus 1 jam

Rebus sisa santan kental bersama garam hingga mendidih sambil diaduk agar tidak pecah. Cairkan sisa gula merah hingga mendidih. Saring

Penyajian : siapkan gelas saji, masukkan gempol, pleret, santan kental, gula jawa dan es batu. Sajikan dingin.

Ada juga yang menyajikan dengan sirup, dan ada juga yang menambahkan dengan bahan lain seperti buah nangka, dsb. Itu selera. Namun gempol yang tepat menurut saya dibuat seperti cara di atas. Okay…selamat mencoba atau selamat merayu istri Anda untuk mencoba, hihihihi….

Terima kasih untuk gambarnya dan cara membuatnya.

Posted by: iyok736 | 29 July 2011

Masa Taman Kanak-kanak

Selintas pintas ingatan kembali ke masa lalu. Masa kecil yang penuh tawa. Masa taman kanak-kanak, yang sekarang lebih sering dikenal sebagai playgroup. Satu hal yang membuat saya mengingat kenangan ini adalah acara festival. Apa hubungannya??

Saat pertengahan masa “bermain” di taman kanak-kanak, kami satu sekolah diajak ke gedung Sukowati di daerah Sukoharjo. Saat itu gedung Sukowati masih megah dan terawat. Kami berangkat pagi-pagi sekali dengan mengenakan seragam kebanggaan kami. Baju putih dan celana pendek warna biru dengan topi kecil berwarna biru dan dasi mungil warna biru. So blue, no wonder why I love that color…

Perjalanan cukup singkat karena di sepanjang jalan kami bernyanyi dan diperkenalkan dengan lingkungan oleh ibu guru-guru kami. Sungguh ceria… Di lokasi ternyata sudah penuh dengan anak-anak sebaya kami dari TK lain. Sangat menyenangkan… Ternyata di gedung tersebut diadakan festival untuk anak-anak TK di sekitar Sukoharjo. Festival yang dikhususkan untuk anak-anak TK!! Waow… mungkin sekarang kita mengenal Kids Zone, dimana anak-anak bebas memerankan apapun keinginan mereka dalam dunia anak-anak. Bahkan dengan mata uang mereka sendiri. Ternyata hal ini sudah kami lakukan lamaaa…sekali. 22 tahun yang lalu ketika saya berumur 5 tahun!!

Mulanya kami mengantri untuk masuk ke dalam gedung. Karena guru pendamping diminimalkan perannya. Kami mengantri untuk mendapatkan topi khusus peserta dari kertas dan mendapatkan sejumlah uang kertas khusus festival. Kami dibebaskan untuk membelanjakan uang tersebut sesuai keinginan kita. Pada mulanya kami tidak paham, namun setelah kami masuk ke gedung barulah kami paham. Mungkin saat itu kami diajari banyak hal yang belum kami sadari, seperti pelajaran tentang mata uang dan nominalnya, shopping wisdom, dan manajemen nafsu (hahaha).

Di dalam gedung sudah ada deretan kios-kios mini yang menjual aneka ragam pangan dan mainan. Namun para penjualnya adalah orang-orang dewasa. Pada saat itu saya hanya berbelanja beberapa item, seperti:

Nasi liwet, karena begitu semangatnya jadi lupa sarapan sebelum berangkat.

Kemudian untuk mempermanis topi yang saya kenakan, saya akhirnya membeli topeng,

Dan sebuah pistol air untuk memberi kesan “gahar”, jangan lupa karena saat itu film “Bonanza” sangat populer.

Sungguh keren rasanya saat itu, hehehe norak ya… biarin, namanya juga masih 5 taun…

Belum puas berkeliling, perut sudah lapar, lagi haus. Mata pun mencari-cari makanan yang bisa menebus lapar sekaligus haus. Dan tertumbuklah pandangan ke arah penjual “Gempol Plered”. Tau apakah itu?? Seperti ini:

Mirip cendol tapi beda. Yang bulat putih itu dibuat dari tepung beras, dan yang coklat itu dibuat dari ketan, gula, dan kelapa, dicampur dengan kuah santan kelapa. Rasanyaaa….eeeemmmmmhhh… nikmat… coba deh

Haus dan lapar terobati, saatnya bermain dan berbelanja lagi. Beberapa mainan pun terbeli sudah, mahkota dari kertas, mobil-mobilan kayu, serta pecut (cambuk) kecil.

Eh iya…lupa waktu itu beli boneka atau tidak. Hihihihi…ngeles dikit…

Tak terasa waktu sudah hampir beduk (dhuhur-red). Jangan salah, kami sudah diajari tentang cara membaca jam. Dan itulah waktunya kami pulang. Ketika meraba kantong, masih tersisa beberapa lembar mata uang mainan. Saya pun menghamburkannya untuk membeli dawet (cendol), serabi (bukan surabi), dan es krim tentunya sebagai pencuci mulut (jaaah). Masih kecil tapi tau rasanya foya-foya dengan duit sendiri, hahahaha… Sebenarnya karena nantinya juga ga kepake sih, jadinya dihambur-hamburin saja. Itupun makan bareng temen-temen, karena emang masih banyak duitnya. Critanya nraktir kali ya…tapi ga kepikiran apa itu nraktir, cuman seneng aja bisa makan bareng-bareng.

Puas…kenyang…dan forgetless… Sungguh salah satu masa TK yang menyenangkan. Bagaimana dengan Anda??

Posted by: iyok736 | 21 July 2011

Serapah

Hari ini berasa suntuk sekali di kantor…

Apakah karena lapar? (Habis makan tuh….)

Apakah karena bosan empat tahun lebih di unit yang sama? (Mungkin…tp apa iya?)

Apakah karena beberapa rekan mendapatkan mutasi lebih dulu? (Ikut seneng buat mereka)

Apakah karena beberapa rekan segera mengenyam S2 Luar Negeri ? (Ikut seneng buat mereka)

Apakah karena jauh dari pasangan hidup?? (Mmmm…sometimes…)

Apakah karena pekerjaan yang memberatkan? (Not at all!!!)

 

Yang pasti hari ini suntuk sekali…

All works have done…did I do it well enough??

 

#In fact is…I need something new…

Posted by: iyok736 | 21 July 2011

Jadi Raja Sehari

Foto bareng dia…

Foto Bareng Mahar

Mahar Asli Handmade

Hehehehe…itu inspirasinya, yang beneran yang ini

Tampak samping…

Ritual

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.